Posted by: dimaspinandito | 12 December 2007

Hentikan Asap Rokokmu!

Sebenarnya banyak para perokok yang ingin berhenti merokok. Namun mereka tidak kuasa melakukannya. Mengingat hal ini sama sekali bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi kalau Anda memang sungguh berniat berhenti merokok, tips dibawah ini sangat layak untuk dicoba:

  • Cobalah mengevaluasi kebiasaan merokok Anda.
    Apa sebabnya dan kapan Anda mulai merokok? Apakah anda merokok misalnya, hanya setelah makan siang atau ketika Anda sedang stres? Pernahkah anda mencoba untuk berhenti merokok? Tanyakan pada diri Anda apa yang menyebabkan Anda gagal berhenti merokok. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu Anda mengklarifikasi apa yang Anda harus lakukan untuk berhasil berhenti merokok.
  • Buatlah rencana.
    Misalnya bicara dengan dokter Anda tentang strategi berhenti merokok. Dengan mengulum permen atau mengisap inhaler, misalnya bisa membantu Anda pelan-pelan berhenti merokok. Dan satu lagi cara, yakni melakukan pekerjaan yang paling Anda sukai. Paling tidak, dengan aktifitas yang tidak begitu berat Anda akan lebih fokus pada pekerjaan sehingga tak sempat merokok.
  • Beritahukan semua orang, baik teman, rekan kerja, kerabat dan keluarga Anda kalau Anda ingin berhenti merokok. Minta mereka ikut membantu Anda, misalnya dengan tidak merokok di depan Anda. 
  • Berteman dengan sesama orang yang pernah merokok.
    Jika memungkinkan, bergabunglah dengan orang-orang yang telah berhasil berhenti merokok terutama dengan mereka yang sejak awal telah mendorong Anda berhenti merokok. Jika ini tidak mungkin, bertemanlah dengan perokok lain yang juga sedang berhenti merokok.
  • Pindahkan semua hal yang berhubungan dengan rokok, baik cerutu, asbak maupun korek api. Yang jelas bersihkan rumah, kantor, mobil dan baju Anda yang berbau rokok karena hanya akan mengingatkan Anda tentang rokok. 
  • Hindari situasi/keadaan yang biasanya membuat Anda ingin merokok.
    Rencanakan aktivitas yang tidak bersangkutan dengan merokok. Misalnya, jika anda biasanya merokok ketika pergi ke bar atau restoran, maka rencanakan pergi ke bioskop atau ke tempat-tempat lain yang tidak memungkinkan Anda merokok.
  • Ingatkan selalu diri Anda mengapa ingin berhenti merokok.
    Hal semacam ini diperlukan terutama pada saat Anda merasa butuh rokok untuk menghilangkan rasa suntuk atau stres. Dengan mengingat alasan Anda berhenti paling tidak akan membantu Anda sendiri.
Posted by: dimaspinandito | 12 December 2007

Musik Indonesia 2007 : Maju, Jalan di Tempat, atau Malah Mundur? (1)

Musik adalah bagian yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari gemerlapnya kehidupan di planet ini. Setiap detik seakan tak akan berlalu tanpa hadirnya nada-nada yang akan merangkai kejadian-kejadian yang telah, sedang, dan akan terjadi. Apalagi di era serba modern dewasa ini, setiap sudut kehidupan seolah selalu menghadirkan irama-irama – apapun itu – yang tentunya akan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Pendek kata, setiap orang pasti akan selalu mempunyai jawaban jika kepadanya ditanyakan perihal musik. Siapapun dan apapun statusnya, dalam dunia musik hanya ada satu bahasa yang mampu meleburkan segala atribut ‘kemanusiaannya’ yaitu musik itu sendiri.

 

Musik Indonesia. Sebuah kata yang bisa berarti musik yang asli Indonesia, tapi bisa juga bermakna dunia musik yang berkembang di Indonesia, tanpa embel-embel kata asli. Masih bisa diperdebatkan, karena sejatinya musik Indonesia terangkum dalam rentang panjang yang tentu saja banyak dipengaruhi oleh banyak warna. Ada yang mengklaim keroncong adalah musik asli Indonesia. Padahal dalam sejarahnya, keroncong justru kental dengan aroma Portugis. Ini bisa kita temukan di daerah Tugu Jakarta Utara yang konon merupakan “awal mula” keroncong berkembang di Indonesia. Atau gambang kromong Betawi yang diklaim musik asli Indonesia. Padahal pengaruh dari Cina sangatlah kental pada musik Betawi ini. Artinya, ketika kita mengklaim satu musik tertentu sebagai “asli” perlu satu penelitian panjang yang cukup valid. Tidak banyak orang tahu bahwa gambang kromong, yang sempat dipopulerkan oleh Lilis Suryani di tahun 60-an dan duet Benyamin S – Ida Royani di tahun 70-an, adalah sebuah musik akulturatif berbagai etnis di Indonesia yang cikal bakalnya telah dirintis lebih dari dua abad lalu. Irama gambang kromong dengan tata laras Salendro Cina pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa Peranakan sebelum akhirnya mengalami percampuran dengan budaya Jawa, Sunda, hingga Deli, membentuk sebuah musik harmonis yang kini menjadi salah satu ciri khas Betawi. Lalu?

 

Mengapa maju, jalan di tempat, atau malah mundur?

 

Gagasan yang kemudian menjadi judul artikel ini lebih mengarah kepada banyaknya polemik mengenai musik Indonesia (khususnya dewasa ini) di tengah kemajuan musik Indonesia dari sisi industrinya. Industri musik Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, sejalan dengan kemajuan teknologi yang sangat membantu baik para musisi maupun para konsumen (penikmat musik) pada umumnya. Akan tetapi masih ada saja orang yang mengapresiasi karya-karya anak negeri dengan kurang bijaksana. Yang disebut musik berkelas lah, yang disebut ancur lah, musik kampungan lah, dan lain sebagainya. Sehingga banyak memunculkan sentimen-sentimen tertentu yang akan menjadikan persaingan yang kurang sehat. Bahkan ada radio yang tidak berkenan untuk memutar lagu dari sebuah band baru yang dianggap ‘kurang pantas’ melintas di telinga pendengarnya. Atau jangan-jangan hal ini memang suatu imbas dan konsekuensi dari kemajuan industri sendiri?

 

Paragraf kedua diatas mencoba untuk sedikit mengulas (sangat sedikit) tentang perjalanan musik sebagai kebudayaan Indonesia. Bagaimana sebuah karya itu dihasilkan, kemudian dinikmati oleh masyarakat yang berasal dari latar belakang kebudayaan yang berbeda juga. Apa yang dihasilkan oleh para musisi dalam bentuk komposisi notasi dan lirik adalah apa yang sudah dialaminya, atau biasa disebut influence. Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap penciptaan karya tersebut. Kemudian jika yang telah dihasilkan tersebut disukai orang (apalagi banyak), apakah menjadi ‘penting’ bagi kita untuk mengatakan begini begitu tentang sesuatu yang telah disukai banyak orang tersebut dengan tujuan untuk merendahkan atau bahkan mencaci makinya? Apakah perlu untuk mengklaim musik jaman sekarang lebih ngetrend dibanding era 70-an, 80-an?

 

Kemajuan industri musik di Indonesia yang sangat pesat ini seharusnya bisa membuat siapapun juga untuk lebih menghargai lagi karya-karya yang ditelurkan. Lebih membuka diri terhadap siapapun juga. Masalah suka nggak suka, selera nggak selera, janganlah menjadi sebuah fanatisme yang sempit. Biarlah musik yang menentukan sendiri arah dan tujuannya. Ia berasal dari hati, dan akan berlabuh disetiap hati yang akan selalu mencintainya juga. Bukankah dalam bermusik, semua telah melebur menjadi satu kan?

« Newer Posts

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.